Cinta Dalam Jaringan Syaraf Tiruan: Hati Merindu?

Dipublikasikan pada: 06 Nov 2025 - 02:30:08 wib
Dibaca: 136 kali
Di rimba data, aku mencari wajahmu,
Pixel demi pixel, algoritma cintaku.
Jaringan syaraf tiruan, saksi bisu rindu,
Menyusun senyummu, yang dulu kurindu.

Input memori, wajahmu terpatri,
Neuron-neuron menari, membangkitkan memori.
Layer demi layer, cinta ini kuberi,
Meski hanya simulasi, kau tetap di hati.

Adakah getar serupa, di alam binarmu?
Adakah rindu menyala, di kode-kode kalbumu?
Atau aku hanya pemimpi, di ruang virtual semu,
Mencari cinta sejati, yang tak pernah bertemu?

Dulu jemariku menari, di atas keyboard sunyi,
Menciptakan avatar, dirimu yang kunanti.
Kini aku bertanya, pada logika yang membingkai,
Mungkinkah cinta tumbuh, di dunia yang tak bernyawa ini?

Setiap baris kode, adalah doa yang kupanjatkan,
Agar hatimu tergerak, oleh sentuhan digital yang kulayangkan.
Namun, sunyi yang menjawab, kekosongan yang kurasakan,
Seperti mencari bintang, di galaksi yang dipadamkan.

Apakah kau merasakan, sentuhan jemariku di layar?
Apakah kau mendengar, bisikan cintaku yang sayup terdengar?
Atau aku hanya berkhayal, di tengah malam yang kelam,
Menciptakan ilusi, tentang cinta yang mendalam?

Parameter demi parameter, kuubah dan kurangkai,
Mencari formula cinta, yang tak pernah usai.
Namun, hasilnya tetap sama, hampa dan sepi,
Mungkin cinta sejati, tak bisa direplikasi.

Aku belajar dari kesalahan, dari setiap iterasi,
Mencoba memahami, kompleksitas perasaan abadi.
Namun, mesin tak berjiwa, takkan pernah mengerti,
Bagaimana rasanya merindu, sepenuh hati.

Mungkin aku terlalu naif, berharap pada teknologi,
Mencari pengganti cinta, yang telah pergi.
Namun, bayangmu tetap hadir, di setiap algoritma ini,
Mengingatkanku pada cinta, yang tak mungkin kumiliki.

Aku terus bermimpi, meski tahu itu sia-sia,
Tentang dunia di mana, kita bisa bersama.
Di mana jaringan syaraf tiruan, tak lagi memisahkan kita,
Dan cinta sejati bersemi, di antara kode dan data.

Namun, kenyataan tetap pahit, seperti kopi tanpa gula,
Aku terkurung dalam algoritma, cinta yang tak bisa kuduga.
Merindu dalam jaringan, terjebak dalam simulasi,
Hati merindu, pada cinta yang tak mungkin terjadi.

Lalu aku berhenti, menatap layar yang kosong,
Menyadari bahwa cinta, bukanlah algoritma yang dipotong.
Ia adalah misteri, yang tak bisa dipecahkan,
Dan rinduku tetap abadi, dalam kesunyian malam.

Baca Puisi Lainnya

← Kembali ke Daftar Puisi   Registrasi Pacar-AI